Langsung ke konten utama

Belajar dari lebah madu........


Lebah madu mengajari paling tidak 3 kebijakan untuk menjalani kehidupan. ke 3 hal ini jika kita terapkan dalam kehidupan akan bisa menunjang keselarasan hidup dengan semesta. Inilah cara kehidupan yang tepat.
3 hal yang dilakukan lebah madu:

1. Memilih dalam melakukan sesuatu saat mencari makanan.
Saat lebah madu mencari makanan, ia memilih bunga yang akan menghasilkan madu yang baik. Demikian juga seharusnya kita. Carilah makanan yang bermanfaat bagi jiwa kita. Bukan sekedar bermanfaat bagi kenyamanan badan. Bukan kah aku ini bukan sekedar badan? Aku adalah jiwa yang mulia dan memuliakan. Saat mengkonsumsi makanan pun kita mesti memikirkan, apakah makanan ini menunjang peningkatan evolusi jiwa atau hanya sekedar untuk kenyamanan badan atau lidah.
Keberadaan kita di dunia mesti ada tujuan dan maksudnya. Makan untuk hidup BUKAN hidup untuk makan. Pepatah inilah yang mesti kita ingat. Sehingga saat mencari rejeki atau uang, lakukan dengan cara yang memuliakan jiwa. Istilah kerennya: Menspiritualkan pekerjaan.
Pilihlah pekerjaan yang mampu menunjang evolusi jiwa. Bukan cari pekerjaan yang berakibat kemerosotan jiwa. Hidup adalah berkah ilahi. Syukuri berkah ilahi dengan cara melakukan pekerjaan yang selaras dengan alam semesta.

2. Tidak membunuh bunga saat lebah madu mengisap sari madu dari bunga
Kaitkan dalam mendapatkan atau mencari uang. Sering kali kita melakukan pekerjaan demi memperoleh uang tapi merugikan orang lain. Misalnya, kita dipercaya negara atau perusahaan mengelola sejumlah uang demi pelaksanaan pekerjaan tertentu. Dalam pelaksanaannya, kita lebih mementingkan diri, kelompok, dan golongan sendiri. Dengan cara ini, kita menggunakan uang bukan untuk kepentingan bersama. Tapi sekedar memenuhi kebutuhan golongan, kelompok sendiri. Kita masih dikuasai ego. Akhirnya kondisi orang lain menderita karena ulah kita dalam mengelola anggaran. Ini tentu tidak selaras dengan sifat alam semesta. Upayakan melaksanakan amanat demi kepentingan umum.
Dalam mengisap sari bunga, lebah madu membantu terjadinya penyerbukan. Semestinya kita melakukan hal yang sama dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan. Orang lain juga merasakan manfaat ketika bekerja sama dengan kita. Janganlah orang lain menderita saat bekerja sama. Win Win solution.
Sifat lebah yang bermanfaat bagi bunga. Selain memperoleh sari bunga juga membantu terjadinya penyerbukan. Dengan kata lain, terjadi perkembangan biakan atau pertumbuhan dalam kehidupan tempat kita mencari harta.

3. Mengisap banyak namun tidak hanya digunakan untuk dirinya sendiri
Sifat lebah madu yang sangat mulia. Lebah madu mencari sari bunga sebanyak-banyaknya. Namun yang diperolehnya jauh melebihi dari apa yang dibutuhkan. Sehingga saat madu diambil oleh peternak lebah, ia sama sekali tidak dirugikan. Ia tahu bahwa sisa hasil pencahariannya atau perolehannya diambil orang. Dan ia membiarkan. Lebah madu tidak pernah melawan ketika hasil perolehan madunya diambil. Ia marah dan menyerang saat rumahnya diganggu.
Demikian juga hendaknya kita dalam menjalani kehidupan ini. Cari sebanyak-banyaknya dan berbagilah dengan sesama. Gunakan sesuai dengan kebutuhan dan sisanya berbagi dengan orang yang membutuhkan. Kita harus senantiasa mengingatkan diri bahwa harta dunia bisa menjadi jebakan bagi sang jiwa yang menghuni badan kita. Saat itulah kita hidup dalam neraka. Dalam penderitaan. Ulah kita sendiri. Bukan karena perbuatan orang lain.

Salam belajar dan berbagi...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa yang Bodoh Saat Menuding Pemimpinnya Bodoh?

Pemimpin yang cerdas lahir dari rakyat yang cerdas.............. Pemimpin yang berani lahir dari pemilih yang berani....... Pemimpin yang ragu lahir dari rakyat yang juga tidak tegas............. So, kita harus sadar bahwa sebelum menuding orang, lihat diri sendiri dahulu. Kebanyakan dari kita senang membuat gossip dan mencari kelemahan orang lain. Saat kita menggosip sesungguhnya kita memiliki kelemahan. Kesukaan menggosip itulah kelemahan. Jika saja di hati kita yang ada adalah kebajikan dan senantiasa ingin berbagi, dengan sendirinya pikiran kita hanya terisi bagaimana bisa berbagi kesadaran atau kebajikan dengan orang lain. Jika kita selalu ingin berbagi kebahagiaan, sering kita tanpa sadar melupakan segala sesuatu yang 'menurut' anggapan orang menyakitkan diri kita. Sakit atau tidak itu sangat relatif sesungguhnya. Bisa saja menurut orang lain sakit, tapi bagi kita tidak merasakan sakit perasaan. Memperhatikan hal ini sesungguhnya sakitnya perasaan atau tidak ...

Perpustakaan sebagai Gerbang Kebudayaan

Julius Caesar, sang Raja Roma, pernah menyerang ke Mesir. Namun, ternyata Mesir memiliki tentara yang amat kuat. Saking kuatnya, dia beserta pasukannya terjepit. Dalam keadaan terjepit itulah Caesar memiliki ide untuk menghindari tentara musuh, yaitu dengan cara membakar perpustakaan besar Mesir yang bernama Bibliotheca Alexandria. Ternyata Caesar berhasil meloloskan diri dari kepungan tentara Mesir. Rupanya dia tahu betul bahwa orang-orang Mesir sangat menghargai perpustakaannya. Dari cerita di atas, tersirat bahwa perpustakaan yang berisi buku dan arsip yang pada waktu itu tercatat sejumlah 700.000 gulungan papirus merupakan sesuatu yang sangat berharga. Bahkan harganya jauh lebih tinggi dari seorang Raja Roma sehingga mereka rela meloloskan musuhnya demi untuk menyelamatkan perpustakaan yang terbakar. Perpustakaan adalah gerbang kebudayaan yang luas,begitulah Greenhalgh dan Worpole mendefinisikan perpustakaan.Tampaknya Mesir saat itu sadar melalui perpustakaan kebudayaan ya...

Kecerdasan dan kepintaran.........

Gampang mengucapkan, sangat sulit melakukan. Tapi bukan tidak mungkin..... Mungkin kebanyakan orang agak bingung membedakan antara cerdas dan pintar/pandai. Bagi saya seseorang dikatakan cerdas jika ia mampu bertindak secara tepat. Mengapa mesti bertindak secara tepat bukan benar? Kebenaran sangat tergantung dengan personalnya. Namun bukan yang disebut kebenaran mutlak. Inipun jika orang sudah memahami esensi kehidupan. Suatu tindakan yang tepat sangat dipengaruhi keadaan saat itu. Misal, seseorang dikatakan benar dalam melakukan pembunuhan jika ia berprofesi sebagai tentara dan saat ia melakukan pembunuhan dalam suasana peperangan. Namun jika seseorang melakukan pembunuhan dengan alasan membela agama, ini tidak tepat. Karena agama tidak mengajarkan hal itu, pembunuhan. Yang diajarkan adalah mengasihi sesama dan memelihara kehidupan. Seseorang yang berprofesi sebagai tentara memiliki tugas membela negara. Dan untuk itu ia tidak memiliki pilihan lain kecuali berperang di sa...