Langsung ke konten utama

Kenalilah kehidupan..Darimana penderitaan itu datang ?



Dari pengharapan kita
yang tidak realistis akan natural
dari hidup.

jika tuhan mau begitu rubahlah
semua seperti yang kumau..
karna kuingin semua berjalan
seperti yang kumau.

Tidak ada pesta yang tak usai,
tidak ada pertemuan tanpa
perpisahan, tidak ada kelahiran
tanpa kematian.
Mereka yang menyadari hal ini,
Selayaknya mencari
bahwa kesalahan bukan pada
hidup ini, tapi pada pengharapan
kita yang tidak realistis atas
hidup ini.

Perasaan, pikiran, penyerapan
dan kesadaran, sebagai aktivitas
mentalpun tidaklah berubah. Ia
menjadi obyek dari berbagai
faktor.

Manusia adalah mahluk
multidimensi.

Seorang yang tidak
memiliki pacar ada kalanya
merasa malu atau rendah diri jika
dibandingkan dengan mereka
yang memiliki pacar. Namun
benarkah kebahagiaan akan
diraih apabila seseorang telah
memiliki pacar? Tidak juga.

Dengan bertambahnya kesukaan
di dalam hidup, bertambah pula
ketakutan yang mengikutinya.
Ia yang memiliki kekasih akan
ketakutan apabila kehilangan
kekasihnya.

Ia meluangkan
waktunya hanya untuk
memastikan kekasihnya tidak
hilang disamber orang.
Setelah berpacaran sekian lama,
mereka ingin menikah.

Apakah dengan menikah
kebahagiaan itu langsung
dirasakan? Jika benar, mengapa
banyak keluarga yang
berantakan? Sebagian memilih
berpisah, sebagian lagi menjalani
kehidupan keluarga yang penuh
dengan kejemuan, kebohongan,
rutinitas dan semata-mata karena
kewajiban belaka.

Kewajiban
pada istri / suami, kewajiban
pada anak-anak.
Setelah menikah, baru mereka
menyesal dan memimpikan
kebebasan para bujangan.

Siapa bilang dengan memiliki
uang yang melimpah akan
menjamin kebahagiaan?

Seorang istri lelaki yang kaya
melewati hari-hari sepinya
dengan ketakutan. Mereka takut
suami mereka selingkuh. Semakin
kaya seorang lelaki semakin
berpotensi untuk menciderai
perkawinannya.

Apa yang dipakai sebagai ukuran
bahagia, menyenangkan,
menyukakan, ternyata tidaklah
real. Ia ada, memang ada, namun
ditopang oleh berbagai kondisi.

Mereka yang menyadari hal ini,
yaitu bahwa segala sesuatu
bersifat tidak kekal, tidak
menjamin kepuasan mutlak, dan
tiada hakekat inti, dengan
sendirinya terlepas dari ilusi
untuk terus mempertahankan
status quo (keadaan Sebagaimana Adanya).
 Ia bebas lepas menghadapi, menjalani dan
merayakan kehidupan ini apa
adanya..


SALAM.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa yang Bodoh Saat Menuding Pemimpinnya Bodoh?

Pemimpin yang cerdas lahir dari rakyat yang cerdas.............. Pemimpin yang berani lahir dari pemilih yang berani....... Pemimpin yang ragu lahir dari rakyat yang juga tidak tegas............. So, kita harus sadar bahwa sebelum menuding orang, lihat diri sendiri dahulu. Kebanyakan dari kita senang membuat gossip dan mencari kelemahan orang lain. Saat kita menggosip sesungguhnya kita memiliki kelemahan. Kesukaan menggosip itulah kelemahan. Jika saja di hati kita yang ada adalah kebajikan dan senantiasa ingin berbagi, dengan sendirinya pikiran kita hanya terisi bagaimana bisa berbagi kesadaran atau kebajikan dengan orang lain. Jika kita selalu ingin berbagi kebahagiaan, sering kita tanpa sadar melupakan segala sesuatu yang 'menurut' anggapan orang menyakitkan diri kita. Sakit atau tidak itu sangat relatif sesungguhnya. Bisa saja menurut orang lain sakit, tapi bagi kita tidak merasakan sakit perasaan. Memperhatikan hal ini sesungguhnya sakitnya perasaan atau tidak ...

Perpustakaan sebagai Gerbang Kebudayaan

Julius Caesar, sang Raja Roma, pernah menyerang ke Mesir. Namun, ternyata Mesir memiliki tentara yang amat kuat. Saking kuatnya, dia beserta pasukannya terjepit. Dalam keadaan terjepit itulah Caesar memiliki ide untuk menghindari tentara musuh, yaitu dengan cara membakar perpustakaan besar Mesir yang bernama Bibliotheca Alexandria. Ternyata Caesar berhasil meloloskan diri dari kepungan tentara Mesir. Rupanya dia tahu betul bahwa orang-orang Mesir sangat menghargai perpustakaannya. Dari cerita di atas, tersirat bahwa perpustakaan yang berisi buku dan arsip yang pada waktu itu tercatat sejumlah 700.000 gulungan papirus merupakan sesuatu yang sangat berharga. Bahkan harganya jauh lebih tinggi dari seorang Raja Roma sehingga mereka rela meloloskan musuhnya demi untuk menyelamatkan perpustakaan yang terbakar. Perpustakaan adalah gerbang kebudayaan yang luas,begitulah Greenhalgh dan Worpole mendefinisikan perpustakaan.Tampaknya Mesir saat itu sadar melalui perpustakaan kebudayaan ya...

Kecerdasan dan kepintaran.........

Gampang mengucapkan, sangat sulit melakukan. Tapi bukan tidak mungkin..... Mungkin kebanyakan orang agak bingung membedakan antara cerdas dan pintar/pandai. Bagi saya seseorang dikatakan cerdas jika ia mampu bertindak secara tepat. Mengapa mesti bertindak secara tepat bukan benar? Kebenaran sangat tergantung dengan personalnya. Namun bukan yang disebut kebenaran mutlak. Inipun jika orang sudah memahami esensi kehidupan. Suatu tindakan yang tepat sangat dipengaruhi keadaan saat itu. Misal, seseorang dikatakan benar dalam melakukan pembunuhan jika ia berprofesi sebagai tentara dan saat ia melakukan pembunuhan dalam suasana peperangan. Namun jika seseorang melakukan pembunuhan dengan alasan membela agama, ini tidak tepat. Karena agama tidak mengajarkan hal itu, pembunuhan. Yang diajarkan adalah mengasihi sesama dan memelihara kehidupan. Seseorang yang berprofesi sebagai tentara memiliki tugas membela negara. Dan untuk itu ia tidak memiliki pilihan lain kecuali berperang di sa...