Langsung ke konten utama

Siapa yang Bodoh Saat Menuding Pemimpinnya Bodoh?


Pemimpin yang cerdas lahir dari rakyat yang cerdas..............
Pemimpin yang berani lahir dari pemilih yang berani.......
Pemimpin yang ragu lahir dari rakyat yang juga tidak tegas.............
So, kita harus sadar bahwa sebelum menuding orang, lihat diri sendiri dahulu. Kebanyakan dari kita senang membuat gossip dan mencari kelemahan orang lain. Saat kita menggosip sesungguhnya kita memiliki kelemahan. Kesukaan menggosip itulah kelemahan. Jika saja di hati kita yang ada adalah kebajikan dan senantiasa ingin berbagi, dengan sendirinya pikiran kita hanya terisi bagaimana bisa berbagi kesadaran atau kebajikan dengan orang lain.
Jika kita selalu ingin berbagi kebahagiaan, sering kita tanpa sadar melupakan segala sesuatu yang 'menurut' anggapan orang menyakitkan diri kita.
Sakit atau tidak itu sangat relatif sesungguhnya. Bisa saja menurut orang lain sakit, tapi bagi kita tidak merasakan sakit perasaan. Memperhatikan hal ini sesungguhnya sakitnya perasaan atau tidak sangat tergantung dari keputusan kita sendiri. Kita yang memberikan izin diri sendiri bisa disakiti atau tidak. Bukan orang lain.... Dan anehnya kita sering memberikan lisensi kepada orang lain untuk menyakiti....
Siapa yang bodoh saat kita menuding pemimpin kita tidak tegas, bodoh, plin-plan dan segala yang buruk-buruk...
Kita yang bodoh. Kita yang tidak cerdas... Tidaklah mungkin ada pemimpin pintar lahir dari pemilih yang bodoh. Dan sebaliknya...
Jadi jika kita terlalu banyak mengkritik dan menghujat, sesungguhnya kita menunjuk ke diri sendiri. Karena masih ada istilah bodoh dan kalimat hujatan dalam hati kita..
 Langkah utama dan pertama adalah menyadari bahwa kita bodoh. Dengan modal awal kesadaran ini, kita punya kekuatan untuk menghapus satu orang bodoh, diri sendiri. Orang yang sadar akan kebodohannya akan mencari pengetahuan untuk memintarkan diri sendiri. Orang yang merasa pintar akan  berhenti berkembang.....Sebaliknya, yang merasa diri bodoh, dia akan berkembang...
Jika menginginkan pemimpin pintar, cerdas, tegas ,dan berani.... Mari kita sebarkan sifat-sifat itu ke sekitar kita, agar menjadi pembelajaran...


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perpustakaan sebagai Gerbang Kebudayaan

Julius Caesar, sang Raja Roma, pernah menyerang ke Mesir. Namun, ternyata Mesir memiliki tentara yang amat kuat. Saking kuatnya, dia beserta pasukannya terjepit. Dalam keadaan terjepit itulah Caesar memiliki ide untuk menghindari tentara musuh, yaitu dengan cara membakar perpustakaan besar Mesir yang bernama Bibliotheca Alexandria. Ternyata Caesar berhasil meloloskan diri dari kepungan tentara Mesir. Rupanya dia tahu betul bahwa orang-orang Mesir sangat menghargai perpustakaannya. Dari cerita di atas, tersirat bahwa perpustakaan yang berisi buku dan arsip yang pada waktu itu tercatat sejumlah 700.000 gulungan papirus merupakan sesuatu yang sangat berharga. Bahkan harganya jauh lebih tinggi dari seorang Raja Roma sehingga mereka rela meloloskan musuhnya demi untuk menyelamatkan perpustakaan yang terbakar. Perpustakaan adalah gerbang kebudayaan yang luas,begitulah Greenhalgh dan Worpole mendefinisikan perpustakaan.Tampaknya Mesir saat itu sadar melalui perpustakaan kebudayaan ya...

Kecerdasan dan kepintaran.........

Gampang mengucapkan, sangat sulit melakukan. Tapi bukan tidak mungkin..... Mungkin kebanyakan orang agak bingung membedakan antara cerdas dan pintar/pandai. Bagi saya seseorang dikatakan cerdas jika ia mampu bertindak secara tepat. Mengapa mesti bertindak secara tepat bukan benar? Kebenaran sangat tergantung dengan personalnya. Namun bukan yang disebut kebenaran mutlak. Inipun jika orang sudah memahami esensi kehidupan. Suatu tindakan yang tepat sangat dipengaruhi keadaan saat itu. Misal, seseorang dikatakan benar dalam melakukan pembunuhan jika ia berprofesi sebagai tentara dan saat ia melakukan pembunuhan dalam suasana peperangan. Namun jika seseorang melakukan pembunuhan dengan alasan membela agama, ini tidak tepat. Karena agama tidak mengajarkan hal itu, pembunuhan. Yang diajarkan adalah mengasihi sesama dan memelihara kehidupan. Seseorang yang berprofesi sebagai tentara memiliki tugas membela negara. Dan untuk itu ia tidak memiliki pilihan lain kecuali berperang di sa...