Selasa, 11 Juni 2013

"WAKTU"


Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api,
tapi satu batang korek api dapat membakar jutaan pohon.

Satu pikiran negatif dapat "MEMBAKAR" semua pikiran positif.

Korek api punya kepala, tapi TIDAK PUNYA OTAK, oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar.

Kita punya kepala dan PUNYA OTAK, jadi kita tidak perlu kebakaran / tersinggung hanya karena gesekan kecil.

Ketika burung hidup, ia makan semut. Ketika burung mati, semut makan burung.
Jadi;
JANGAN RENDAHKAN SIAPAPUN dlm hidup. tapi kita harus MENGHARGAI SIAPAPUN, bukan karena siapa mereka, tapi karena SIAPA DIRI KITA.

Kita mungkin berkuasa tapi WAKTU LEBIH BERKUASA daripada kita.

WAKTU kita sedang JAYA, kita merasa banyak teman di sekeliling kita, kita PD melakukan apa saja, TETAPI WAKTU kita TAK BERDAYA, barulah kita SADAR selama ini siapa sahabat sejati kita; siapa teman yang HANYA memperalat & menggunakan kita.
WAKTU kita SAKIT, kita baru tahu bahwa SEHAT itu sangat PENTING, jauh melebihi harta.

WAKTU kita MISKIN, kita baru tahu jadi ORANG HARUS banyak MEMBERI & saling MEMBANTU.

WAKTU di ambang ajal, kita baru tahu HARTA TIDAKLAH ABADI, & SADAR banyak WAKTU TERBUANG SIA2 karena kita di-"PERBUDAK" untuk mencari harta bukan mencari nafkah sehingga sisa waktu-nya bisa dipergunakan untuk hal2 yg LEBIH BERHARGA dari harta, yaitu: IBADAH, KELUARGA, KESEHATAN, KEGIATAN SOSIAL..
HIDUP SEMENTARA, sdh saatnya kita bersama² membuat HIDUP kita LEBIH BERHARGA dg MEMANFAATKAN WAKTU secara BIJAK, yaitu dengan SALING: MENGHARGAI-MEMBANTU & MEMBERI, MENDUKUNG.JADI TEMAN SETIA tanpa syarat. JAUHKAN NIAT JAHAT utk mencelakai teman.
JANGAN MEMAKSA seseorg melakukan suatu hal yg menyimpang utk kepentingan pribadi kita.

JANGAN MAIN2 dg HUKUM :
"Apa yg DITABUR, itulah yg akan DITUAI !"

JADI
"LATIH"lah diri kita untuk:
"TETAP MERESPON / BERSIKAP POSITIF terhadap teman2 yang negatif terhadap kita, tetapi TETAP BIJAK memilih teman untuk bergaul"

Kenalilah kehidupan..Darimana penderitaan itu datang ?



Dari pengharapan kita
yang tidak realistis akan natural
dari hidup.

jika tuhan mau begitu rubahlah
semua seperti yang kumau..
karna kuingin semua berjalan
seperti yang kumau.

Tidak ada pesta yang tak usai,
tidak ada pertemuan tanpa
perpisahan, tidak ada kelahiran
tanpa kematian.
Mereka yang menyadari hal ini,
Selayaknya mencari
bahwa kesalahan bukan pada
hidup ini, tapi pada pengharapan
kita yang tidak realistis atas
hidup ini.

Perasaan, pikiran, penyerapan
dan kesadaran, sebagai aktivitas
mentalpun tidaklah berubah. Ia
menjadi obyek dari berbagai
faktor.

Manusia adalah mahluk
multidimensi.

Seorang yang tidak
memiliki pacar ada kalanya
merasa malu atau rendah diri jika
dibandingkan dengan mereka
yang memiliki pacar. Namun
benarkah kebahagiaan akan
diraih apabila seseorang telah
memiliki pacar? Tidak juga.

Dengan bertambahnya kesukaan
di dalam hidup, bertambah pula
ketakutan yang mengikutinya.
Ia yang memiliki kekasih akan
ketakutan apabila kehilangan
kekasihnya.

Ia meluangkan
waktunya hanya untuk
memastikan kekasihnya tidak
hilang disamber orang.
Setelah berpacaran sekian lama,
mereka ingin menikah.

Apakah dengan menikah
kebahagiaan itu langsung
dirasakan? Jika benar, mengapa
banyak keluarga yang
berantakan? Sebagian memilih
berpisah, sebagian lagi menjalani
kehidupan keluarga yang penuh
dengan kejemuan, kebohongan,
rutinitas dan semata-mata karena
kewajiban belaka.

Kewajiban
pada istri / suami, kewajiban
pada anak-anak.
Setelah menikah, baru mereka
menyesal dan memimpikan
kebebasan para bujangan.

Siapa bilang dengan memiliki
uang yang melimpah akan
menjamin kebahagiaan?

Seorang istri lelaki yang kaya
melewati hari-hari sepinya
dengan ketakutan. Mereka takut
suami mereka selingkuh. Semakin
kaya seorang lelaki semakin
berpotensi untuk menciderai
perkawinannya.

Apa yang dipakai sebagai ukuran
bahagia, menyenangkan,
menyukakan, ternyata tidaklah
real. Ia ada, memang ada, namun
ditopang oleh berbagai kondisi.

Mereka yang menyadari hal ini,
yaitu bahwa segala sesuatu
bersifat tidak kekal, tidak
menjamin kepuasan mutlak, dan
tiada hakekat inti, dengan
sendirinya terlepas dari ilusi
untuk terus mempertahankan
status quo (keadaan Sebagaimana Adanya).
 Ia bebas lepas menghadapi, menjalani dan
merayakan kehidupan ini apa
adanya..


SALAM.